Jumat, 19 Agustus 2011

PEMBELAJARAN MATEMATIKA SEPANJANG HAYAT: MUNGKINKAH BAGI ORANG DEWASA?


Ary Woro Kurniasih, S. Pd
Jurusan Matematika FMIPA UNNES

Abstrak. Belajar sepanjang hayat merupakan asas pendidikan yang penting bagi orang-orang yang hidup dalam era transformasi, dan di dalam masyarakat yang saling mempengaruhi di era globalisasi. Belajar sepanjang hayat adalah suatu cara untuk mengatasi konsekuensi logis dari perkembangan teknologi dan globalisasi karena perkembangan ini menuntut orang untuk dapat memanfaatkan teknologi dalam kehidupannya, meningkatkan status sosial ekonomi.

Matematika mempunyai peran yang penting dalam kehidupan sosial dan teknologi antara lain matematika dalam masyarakat merupakan alat yang digunakan untuk mengorganisasi kehidupan masyarakat sehari-hari, dan matematika merupakan bagian dari kebudayaan. Matematika diajarkan karena matematika melatih pembelajar berpikir dan berargumentasi. Tidak hanya mengasah fungsi otak kiri, yaitu berpikir logis, analitis, kritis, detil, runtut, berurutan dan sistematis, tetapi juga mengasah fungsi otak kanan, seperti berpikir alternatif, eksploratif dan kreatif, serta kemampuan desain dan optimasi. Melalui matematika, pembelajar dapat pula dibiasakan bekerja efisien, selalu berusaha mencari jalan yang lebih sederhana dan lebih singkat

Pembelajaran matematika sepanjang hayat dapat dilaksanakan oleh orang dewasa. Pendidikan orang dewasa berbeda dengan pendidikan pada anak-anak. Tujuan pendidikan orang dewasa adalah membantu orang dewasa menata pengalaman masa lalu yang dimiliki yang membantu individu untuk lebih memanfaatkan apa yang telah diketahui, dan memberikan pengetahuan atau keterampilan baru, yakni mendorong individu untuk meraih pengetahuan atau keterampilan yang lebih baik daripada pengetahuan atau keterampilan yang telah dimiliki.
Kata kunci: belajar sepanjang hayat, matematika, pendidikan orang dewasa.

1.      Pendahuluan
Di akhir abad ke-20, pendidikan sepanjang hayat menjadi kunci penting untuk memecahkan masalah-masalah dalam bidang sosial dan ekonomi di negara-negara industri maju. Pembelajaran sepanjang hayat menjadi jalan keluar untuk menjawab perubahan ekonomi dunia yang terjadi secara cepat.

Karakteristik negara industri maju adalah penggunaan teknologi di dalam kehidupan masyarakatnya. Hulsmann (dalam Schloglmann) menekankan pentingnya penggunaan pengetahuan – pengetahuan alam untuk mengembangkan teknologi, dalam arti perkembangan teknologi merupakan konsekuensi logis dari pengetahuan yang lain seperti fisika, matematika, sosial, ekonomi, dan lain-lain. Hal ini berakibat perlunya penelitian-penelitian yang berperan untuk mengembangkan teknologi yang berakibat pada perlunya kompetensi-kompetensi yang dimiliki manusia untuk dapat mengembangkan teknologi. Dampak langsung dari perkembangan ini adalah perlunya pendidikan  lebih lanjut bagi orang dewasa untuk terus dapat mengikuti perkembangan jaman bagi kelangsungan hidupnya.

Matematika sukar untuk didefinisikan. Banyak orang yang memandang matematika hanya sebagai kegiatan menghitung, yang secara informal didefinisikan sebagai ilmu tentang berbagai bilangan yang bisa langsung diperoleh dari bilangan-bilangan bulat 0, 1, -1, 2, - 2, ..., dst, melalui beberapa operasi dasar: tambah, kurang, kali dan bagi. Suka atau tidak suka seseorang terhadap matematika, namun tidak dapat dihindari bahwa hidupnya akan senantiasa bertemu dengan matematika. Matematika merupakan raja sekaligus pelayan bagi ilmu-ilmu yang lain. Matematika sebagai raja artinya matematika tidak bergantung pada ilmu pengetahuan yang lain, matematika sebagai pelayan artinya matematika merupakan alat bantu kehidupan dan pelayan bagi ilmu-ilmu yang lain, seperti fisika, kimia, biologi, astronomi, teknik, ekonomi, farmasi maupun matematika sendiri. Matematika mempunyai peran yang penting dalam kehidupan sosial dan teknologi antara lain matematika dalam masyarakat merupakan alat yang digunakan untuk mengorganisasi kehidupan masyarakat sehari-hari, dan matematika merupakan bagian dari kebudayaan.
2.      Pembelajaran Sepanjang Hayat
Belajar adalah merupakan suatu proses kontinu yang tiada pernah berhenti sepanjang hayat masih dikandung badan. Keinginan untuk belajar merupakan suatu peristiwa alami. Manusia selalu ingin mengetahui hal baru, atau menggali hal baru, apakah itu pengetahuan, keterampilan atau apapun. Satu hal penting yang perlu kita catat bahwa belajar terjadi dari peristiwa mengalami (melihat, mendengar, merasakan, mencoba, melakukan, dan seterusnya). Setiap orang, dalam setiap detik dalam hidupnya akan mengalami sesuatu dan dari setiap pengalaman tersebut terdapat hikmah (inspirasi menurut Anthony Robins). Orang yang belajar ternyata adalah orang yang pandai mengambil hikmah (inspirasi) dari setiap apa yang ia alami dalam setiap tarikan nafasnya.

Lapangan pekerjaan di era globalisasi ini membutuhkan orang-orang yang profesional dalam berbagai bidang. Bisa saja dalam suatu waktu seseorang mendapatkan lisensi profesional dan tinggal ongkang-ongkang kaki saja selama tiga puluh sampai lima puluh tahun tetapi saat ini amat sukar menemui orang dengan model seperti itu. Pada umumnya semakin penting profesi seseorang, dan semakin tinggi posisi seseorang dalam profesi tersebut, semakin tinggi pula tingkat kebutuhan untuk melanjutkan pendidikannya untuk dapat menyesuaikan diri dengan situasi baru. Menurut Gardner(Gardner, 2007) pembelajaran sepanjang hayat dilakukan melalui kursus resmi, seminar informal, retret eksekutif, percakapan atau cerita tingkat tinggi.

Tahap belajar sepanjang hayat ada 4 macam yaitu:
a.       Unconciously incompetent
      Peristiwa belajar diawali dengan ketidak sadaran kalau dirinya tidak kompeten. Dalam konteks seperti ini, orang tersebut perlu mendapatkan bantuan lingkungan (peraturan, kebijakan kantor, trend di lingkungan kerja atau lingkungan sebaya) dan atau orang lain (guru, tutor, dosen, penasehat akademik, teman) untuk menyadarkan atau mengingatkan dirinya bahwa ada kemampuan tertentu yang harus ia kuasai. Disinilah, perlunya kita untuk selalu open minded.
b.      Conciously incompetent
      Peristiwa belajar bisa saja diawali dari kondisi dimana ia menyadari dalam hal apa ia tidak kompeten. Motivasi untuk menguasai kompetensi tertentu datang dari dalam (internal motivation). Ini adalah kondisi yang senantiasa penting kita pertahankan. Orang dalam kondisi ini akan memiliki motivasi belajar yang tinggi.
c.       Conciousely competent
      Setelah melalui fase berusaha menguasai sesuatu, seseorang mungkin akan sampai pada kondisi bahwa ia benar-benar menyadari betul dimana ia mempunyai kemampuan atau kelebihan. Dengan kondisi ini, orang tersebut sebaiknya harus terus mampu mengaktualisasikan diri alias “menjual diri” dan terus belajar. Orang-orang seperti inilah yang akan berhasil.
d.      Unconciousely competent
Kondisi dimana seseorang sebenarnya kompeten dalam hal tertentu tapi ia tidak menyadarinya. Dalam kondisi ini, sama seperti kondisi pertama di atas, memerlukan faktor eksternal baik kondisi lingkungan maupun orang lain yang dapat menyadarkan dirinya sehingga dapat mengaktualisasikan kompetensinya tersebut.
           
Belajar sepanjang hayat (long life education) mulai diperkenalkan oleh Peter Drucker pada tahun 1980an. Belajar sepanjang hayat ini bertujuan memberikan kebebasan, kesempatan, sumber belajar bagi pembelajar untuk belajar dengan keluarga, masyarakat, untuk menentukan apa yang akan dipelajari, kapan akan belajar, dan bagaimana kegiatan belajar akan dilaksanakan. Menurut konsep belajar sepanjang hayat, kegiatan-kegiatan pendidikan dianggap sebagai suatu keseluruhan. Seluruh sektor pendidikan merupakan suatu sistem yang terpadu. Konsep ini harus disesuaikan dengan kenyataan serta kebutuhan dari masyarakat yang bersangkutan.
           
Pendidikan sepanjang hayat berlangsung tidak terbatas pada institusi yang bernama sekolah, berlangsung tanpa memandang umur pembelajar, berlangsung sejak manusia lahir hingga masuk ke liang kubur. Belajar sepanjang hayat  dikemukakan pula oleh Edgar Faure dari The International Council of Educational Development (ICED). Edgar Faure menyatakan “ With its confidence in man’s capacity to perfect himself through education, the Moslem world was among the first to recommend the idea of lifelong education, exhorting Moslem to educate themselves from cradle to the grave. (http://akhmadsudrajat.wordpress.com/a-opini/). Bagi orang yang senantiasa menjadikan proses belajar merupakan bagian dari kehidupannya, mereka akan senantiasa siap mengantisipasi perubahan yang timbul atau bahkan perubahan yang diperoleh mereka sebagai akibat langsung dari proses belajar yang senantiasa mereka lakukan. Konsekuensi dari perubahan yang terjadi akan menjadi titik tolak bagi mereka untuk terus belajar.
           
Belajar sepanjang hayat adalah suatu cara untuk mengatasi konsekuensi logis dari perkembangan teknologi dan globalisasi. Belajar sepanjang hayat menurut pandangan ini mempunyai 4 fungsi yaitu:
a.       Sebagai perimbangan model pendidikan, tujuannya mengimbangkan ketidaksamaan hak dalam memperoleh pendidikan dasar di sekolah dan meningkatkan keterampilan vokasional dan keterampilan dasar baca tulis.
b.      Melanjutkan model pelatihan vokasional, tujuannya mengatasi perubahan yang terjadi di dunia kerja dan menyelesaikan dampak akibat pengangguran.
c.       Sebagai model inovasi sosial, tujuannya mengatasi kesenjangan sosial, memajukan kehidupan di bidang sosial ekonomi dan demokrasi.
d.      Sebagai alat pemenuhan kebutuhan personal pembelajar yang terus mempunyai keinginan untuk belajar.

Aspin dan Chapman (dalam Schloglmann) mengemukakan 3 alasan dasar yang seseorang  belajar sepanjang hayat, yaitu:
a.       Belajar sepanjang hayat akan memberikan kemajuan dan perkembangan ekonomi.
b.      Belajar sepanjang hayat merupakan hak personal seseorang untuk mengembangkan diri.
c.       Belajar sepanjang hayat akan memberikan kemajuan di bidang sosial dan demokrasi politik.

3.      Belajar Matematika Sepanjang Hayat
Pengertian matematika sangat sulit didefinisikan secara akurat. Pada umumnya orang awam hanya akrab dengan satu cabang matematika elementer yang disebut aritmatika atau ilmu hitung yang secara informal dapat didefinisikan sebagai ilmu tentang berbagai bilangan yang bisa langsung diperoleh dari bilangan-bilangan bulat 0, 1, -1, 2, - 2, ..., dst, melalui beberapa operasi dasar: tambah, kurang, kali dan bagi.

Matematika dipandang sebagai pelayan dan sekaligus raja dari ilmu-ilmu lain. Sebagai pelayan, matematika adalah ilmu dasar yang mendasari dan melayani berbagai ilmu pengetahuan lain. Sejak masa sebelum masehi, misalnya jaman Mesir kuno, cabang tertua dan termudah dari matematika (aritmatika) sudah digunakan untuk membuat piramida, digunakan untuk menentukan waktu turun hujan, dsb. Sebagai raja, perkembangan matematika tak tergantung pada ilmu-ilmu lain. Banyak cabang matematika yang dulu biasa disebut matematika murni, dikembangkan oleh beberapa matematikawan yang mencintai dan belajar matematika hanya sebagai hoby tanpa memperdulikan fungsi dan manfaatnya untuk ilmu-ilmu lain. Dengan perkembangan teknologi, banyak cabang-cabang matematika murni yang ternyata kemudian hari bisa diterapkan dalam berbagai ilmu pengetahuan dan teknologi mutakhir. (http://id.wikipedia.org/wiki/Matematika)

Matematika tidak hanya sekedar berhitung (aritmatika) tetapi juga statistika, metode numerik, teori graf, kalkulus, geometri, aljabar, topologi, dan sebagainya. Matematika adalah ilmu yang berkembang sejak ribuan tahun lalu dan masih tumbuh subur hingga kini. Tidak mungkin bisa semaunya kita ajarkan kepada siswa di sekolah ataupun kepada orang dewasa. Bahkan, seorang doktor matematika yang paling jenius pun takkan pernah dapat menguasai seluruh materi matematika. Jadi, seharusnya bukan materinya yang kita kejar, tetapi tujuannya. Matematika diajarkan karena matematika melatih pembelajar berpikir dan berargumentasi. Tidak hanya mengasah fungsi otak kiri, yaitu berpikir logis, analitis, kritis, detil, runtut, berurutan dan sistematis, tetapi juga mengasah fungsi otak kanan, seperti berpikir alternatif, eksploratif dan kreatif, serta kemampuan desain dan optimasi. Melalui matematika, pembelajar dapat pula dibiasakan bekerja efisien, selalu berusaha mencari jalan yang lebih sederhana dan lebih singkat (tanpa mengurangi keefektivannya, juga cermat dan tidak ceroboh, serta ketat dalam berargumentasi alias tidak sembarang omong atau tulis).  
(http://www.suarapembaruan.com?News/1998/08/28/0898/OpEd/op06/op06.html).

Peran matematika dalam bidang teknologi dan sosial ada 2 yaitu:
a.       Matematika sebagai alat untuk mengorganisasi kehidupan manusia sehari-hari. Matematika diterapkan dalam berbagai lapangan pekerjaan seperti farmasi, kedokteran, pertanian, pemrograman komputer, akuntansi, geografi, dan lain sebagainya. Matematika menjadi dasar semua teknologi. Algoritma matematika diperlukan dalam perangkat lunak (software) dan logika matematika sebagai dasar dari perangkat keras (hardware) komputer.
b.      Matematika sebagai bagian dari kebudayaan manusia. Prinsip-prinsip demokrasi seperti persamaan, keadilan membutuhkan operasional yang konkret. Di satu sisi demokrasi memerlukan suatu alat untuk mengkomunikasikan ide-ide dan prinsip demokrasi secara rasional. Matematika berhubungan erat dengan kegiatan berfikir rasional mampu mengkomunikasikan ide-ide demokrasi. Demokrasi membutuhkan suatu prosedur pemikiran operasional untuk implementasi yang konkret, matematika mampu memfasilitasi hal tersebut. Model dan teori matematika menjadi dasar untuk menentukan kebijakan dalam bidang ekonomi, teknik, sosial dan politik.

Sebuah penelitian belajar matematika sepanjang hayat yang diikuti para pekerja di Austria tahun 1993-1997 menyimpulkan bahwa alasan belajar matematika sepanjang hayat untuk meningkatkan pendidikan personal sebanyak 74.4%, untuk meningkatkan kemampuan vokasional sebanyak 62.8%, menyukai materi belajar yang baru sebanyak 60.5%,  dan sejalan dengan permasalahan hidup sebanyak 48.8%

Jika matematika memberikan peran dan manfaat yang sangat berpengaruh dalam kehidupan manusia, maka pembelajaran matematika harus dilaksanakan secara kontinu di dalam kehidupan manusia. Peran belajar matematika sepanjang hayat menurut Aspin dan Chapman (dalam Schloglmann) adalah:
a.       Sebagai dasar perkembangan teknologi, matematika merupakan inti dari kemajuan dan perkembangan ekonomi.
b.      Matematika digunakan untuk mengorganisasi kehidupan manusia, proses demokrasi dan sosial.
c.       Sebagai bagian dari perkembangan kebudayaan manusia, matematika berharga untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia.
Tujuan belajar matematika sekolah menurut NCTM adalah sebagai berikut:
  1. Peserta didik belajar tentang nilai-nilai matematika
  2. Peserta didik merasa percaya diri bekerja dengan matematika
  3. Peserta didik menjadi pemecah masalah matematika yang baik
  4. Peserta didik mampu mengembangkan komunikasi matematika
  5. Peserta didik mampu berpikir matematis

Berdasarkan tujuan tersebut, maka pembelajaran matematika bagi orang dewasa memiliki karakteristik berpusat pada pembelajar, memperhatikan latar belakang pendidikan, kebudayaan, gaya belajar, kemampuan belajar dari pembelajar.

4.      Pendidikan Orang Dewasa
Sejak tahun 1920 pendidikan orang dewasa telah dirumuskan dan diorganisasikan secara sistematis. Pendidikan dewasa dirumuskan sebagai suatu proses yang menumbuhkan keinginan untuk bertanya dan belajar secara berkelanjutan sepanjang hayat. Belajar bagi orang dewasa berhubungan dengan bagaimana mengarahkan diri sendiri untuk bertanya dan mencari jawabannya (Pannen dalam Suprijanto).
           
Pendidikan orang dewasa (andragogy) berbeda dengan pendidikan anak-anak (paedagogy). Pendidikan anak-anak berlangsung dalam bentuk identifikasi dan peniruan, sedangkan pendidikan orang dewasa berlangsung dalam bentuk pengarahan diri sendiri untuk memecahkan masalah.
           
Menurut UNESCO, pendidikan orang dewasa mempunyai definisi sebagai keseluruhan proses pendidikan yang diorganisasikan, apapun isi, tingkatan, metodenya, baik formal atau tidak, yang melanjutkan maupun menggantikan pendidikan semula di sekolah, akademi dan universitas serta latihan kerja, yang membuat orang yang dianggap dewasa oleh masyarakat mengembangkan kemampuannya, memperkaya pengetahuannya, meningkatkan kualifikasi teknis atau profesionalnya, dan mengakibatkan perubahan pada sikap dan perilakunya dalam persepektif rangka perkembangan pribadi secara utuh partisipasi dalam pengembangan sosial, ekonomi, dan budaya yang seimbang dan bebas.
           
Menurut Bryson, pendidikan orang dewasa adalah semua aktifitas pendidikan yang dilakukan oleh orang dewasa dalam kehidupan sehari-hari yang hanya menggunakan sebagian waktu dan tenaganya untuk mendapatkan tambahan intelektual. Sedangkan Reeves, Fansler, dan houle menyatakan bahwa pendidikan orang dewasa adalah suatu usaha yang ditujukan untuk pengembangan diri yang dilakukan oleh individu tanpa paksaan legal, tanpa usaha menjadikan bidang utama kegiatannya.

5.      Ciri-Ciri Orang Dewasa Belajar
Cara belajar orang dewasa berbeda dengan cara belajar anak-anak. Menurut Lunandi (dalam Suprijanto) keadaan belajar orang dewasa secara psikologis antara lain belajar adalah suatu pengalaman yang diinginkan orang dewasa itu sendiri, orang dewasa belajar jika bermanfaat bagi dirinya sendiri, belajar bagi orang dewasa terkadang merupakan proses yang menyakitkan diri sendiri, belajar bagi orang dewasa adalah hasil mengalami sesuatu, proses belajar orang dewasa adalah khas, sumber bahan belajar bagi orang dewasa adalah dirinya sendiri, belajar adalah proses emosional dan intelektual, belajar adalah hasil kerjasama antar manusia.
           
Ciri-ciri orang dewasa belajar adalah:
a.       Motivasi belajar adalah dari dalam diri sendiri.
b.      Orang dewasa belajar jika bermanfaat bagi dirinya
c.       Orang dewasa akan belajar jika pendapatnya dihormati
d.      Perlu adanya saling percaya antara pembimbing dan peserta didik
e.       Mengharapkan suasana belajar yang menyenangkan dan menantang
f.       Orang dewasa belajar ingin mengetahui kelebihan dan kekurangannya
g.      Orientasi belajar orang dewasa terpusat pada kehidupan nyata
h.      Sumber bahan belajar adalah dirinya sendiri
i.        Mengutamakan peran orang dewasa sebagai peserta didik
j.        Belajar adalah proses emosional dan intelektual sekaligus
k.      Belajar bagi orang dewasa adalah hasil dari mengalami sesuatu
l.        Belajar adalah hasil kerjasama manusia
m.    Terjadinya komunikasi timbal balik dan pertukaran pendapat
n.      Belajar bagi orang dewasa adalah unik
o.      Orang dewasa umumnya memiliki pendapat, kecerdasan, dan cara belajar yang berbeda
p.      Belajar adalah proses evolusi

6.      Suasana Belajar yang Kondusif
Orang dewasa yang sedang belajar memerlukan suasana belajar yang kondusif agar proses belajarnya dapat berjalan dengan lancar. Suasana belajar yang kondusif bagi orang dewasa adalah sebagai berikut:
a.       Mendorong peserta didik untuk aktif dan mengembangkan bakat
b.      Suasana saling menghormati dan menghargai
c.       Suasana saling percaya dan terbuka
d.      Suasana penemuan diri
e.       Suasana tidak mengancam
f.       Suasana mengakui kekhasan pribadi
g.      Suasana membolehkan perbedaan, berbuat salah, dan keragu-raguan
h.      Memungkinkan peserta didik belajar sesuai dengan minat, perhatian, dan sumber daya lingkungannya
i.        Memungkinkan peserta didik mengakui dan mengkaji kelemahan dan kekuatan pribadi, kelompok, dan masyarakatnya
j.        Memungkinkan peserta didik tumbuh sesuai dengan nilai dan norma di masyarakat

7.      Motivasi Belajar Orang Dewasa
Orang dewasa yang belajar memiliki motivasi belajar sebagai berikut:
a.       Orang dewasa belajar untuk mencari pengalaman yang berkaitan dengan kehidupan nyata.
b.      Tantangan hidup yang terus menerus muncul menuntut orang dewasa untuk mengatasinya melalui pengalaman belajar.
c.       Orang dewasa berkeinginan untuk menguasai pengalaman belajar sebelum, selama, dan sesudah perubahan kehidupannya. Satu hal yang pasti adalah perubahan pasti terjadi, sehingga orang dewasa ingin menguasai pembelajaran yang membantunya melalui masa-masa transisi.
d.      Orang dewasa yang termotivasi mencari pengalaman belajar karena mereka dapat menggunakan pengetahuan dan keterampilan yang mereka dapatkan.
e.       Mendapatkan kepuasan dan meningkatkan harga diri merupakan motivasi yang kuat bagi orang dewasa untuk belajar.

8.      Metode Pendidikan Orang Dewasa
Metode pendidikan orang dewasa harus dipilih berdasarkan tujuan pendidikan orang dewasa yang pada garis besarnya dapat dibagi menjadi dua jenis yaitu membantu orang dewasa menata pengalaman masa lalu yang dimiliki melalui cara baru seperti konsultasi, latihan kepekaan, dan beberapa latihan manajemen yang membantu individu untuk lebih memanfaatkan apa yang telah diketahui, memberikan pengetahuan atau keterampilan baru, yakni mendorong individu untuk meraih pengetahuan atau keterampilan yang lebih baik daripada pengetahuan atau keterampilan yang telah dimiliki.

Metode yang digunakan dalam pendidikan orang dewasa dapat ditinjau dari 2 sudut pandang, yaitu kontinum proses belajar dan jenis pertemuan yang dilakukan dalam pendidikan orang dewasa.

Proses belajar dapat digambarkan sebagai kontinum proses belajar.

 
 Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penataan pengalaman dan perluasan pengalaman adalah sebagai berikut:
Hal
Penataan Pengalaman
Perluasan pengalaman
Persiapan dan orientasi
Membuat peserta didik merasa enak engungkapkan sukses dan kegagalan di masa lalu.
Mengutamakan makna penilaian pengalaman masa lalu untuk dapat mengatasi masalah serupa di kemudian hari
Mengutamakan masalah yang kini tidak dapat dipecahkan oleh peserta didik, tetapi dapat dipecahkan setelah mendapat bahan baru.
Membantu peserta didik untuk mengatasi ketidakmampuan mempelajari bahan baru.
Suasana dan kecepatan belajar
Banyak merenung tanpa tergesa-gesa.
Sangat dipengaruhi oleh reaksi dan kemauan belajar.
Menarik dan mengasyikan.
Sangat ditentukan oleh sifat dan isi pelajaran
Peran pembimbing lebih banyak
Menciptakan suasana, memberi makna pengalaman belajar, memancing ungkapan pengalaman, memberi umpan balik, membantu membuat generalisasi
Mengenal masalah peserta didik, menjelaskan sasaran pelajarn dan konsep baru, atau memperlihatkan tingkah laku.
Peran peserta didik lebih banyak
Mengungkapkan data mengenai pengalaman dan pendapatnya, menganalisis pengalaman, menggali alternatif dan manfaat
Mengolah data dan konsep baru, memprakte\ikkan bahan baru, melihat menerapkan bahan baru pada situasi nyata
Sukses tergantung dari
Suasana yang bebas dari ancaman, rasa kebutuhan peserta didik untuk menemukan pendekatan baru dalam masalah lama
Kejelasan penyajian baru, penghargaan peserta didik terhadap pembimbing, relevansi bahan baru menurut penilaian peserta didik.

Jenis-jenis pertemuan yang umum dilaksanakan dalam pendidikan orang dewasa adalah institusi, konvensi, konferensi, lokakarya, seminar, kuliah bersambung, kursus kilat, kelas formal, diskusi terbuka,

Metode yang dapat digunakan dalam pendidikan orang dewasa adalah:
a.       Penyajian formal
b.      Teknik diskusi
c.       Demonstrasi
d.      Widyawisata
e.       Audiovisual
f.       Komunikasi tertulis

Dalam pembelajaran matematika sepanjang hayat oleh orang dewasa, salah satu metode yang dapat diterapkan adalah metode diskusi. Morgan (dalam Suprijanto) menyatakan bahwa diskusi kelompok yang ideal adalah berpartisipasinya sekelompok orang dalam diskusi suatu subyek atau masalah yang memerlukan informasi atau tindakan lanjut. Kang & Song mendefinisikan diskusi kelompok sebagai pertemuan atau percakapan antara dua orang atau lebih yang membahas topik tertentu yang menjadi pusat perhatian bersama.

Diskusi kelompok dapat dilaksanakan dengan cara dua pimpinan (co-leader) dalam diskusi kelompok, kelompok Huddle, kelompok Buzz, Teknik Phillips 66.

9.      Sistem Dua Pimpinan (Co Leader)
Sistem dua pimpinan dalam diskusi kelompok di populerkan oleh The Great Books Foundation.  Sistem ini digunakan apabila jumlah anggota diskusi kurang dari 20 orang. Penggunaan dua pimpinan ini dapat memperlancar diskusi dan mempermudah dalam mencakup keseluruhan subyek. Kedua pimpinan dapat mengajukan pertanyaan. Seorang pimpinan mengajukan pertanyaan untuk mengarahkan diskusi, pimpinan yang lain sebagai pengecek agar informasi yang penting tidak tertinggal. Dua pimpinan dapat harus dapat membagi tanggung jawab memimpin diskusi sama besar.

10.  Kelompok Huddle
Diskusi dalam kelas besar berisi 30 atau 40 orang dewasa akan sulit dilaksanakan. Oleh karena itu diskusi dilaksanakan dalam kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari 3-5 orang. Dalam sistem huddle ini, pimpinan kelompok memperkenalkan masalah atau isu yang akan dibahas. Selama periode huddle anggota kelompok saling bertukar pengalaman, berbagi ide, mengecek pemecahan tentatif, dan sepakat terhadap pemecahan tentatif tersebut. Setelah menyelesaikan diskusi, masing-masing kelompok mempresentasikan hasil diskusi kelompoknya secara klasikal, sedangkan anggota kelompok huddle yang lain dapat mengajukan pertanyaan, tanggapan. Diskusi klasikal ini dipimpin oleh salah seorang pembelajar dewasa. Setelah semua kelompok huddle mempresentasikan hasil diskusinya, pimpinan diskusi kelompok besar mempimpin diskusi untuk menyimpulkan prinsip-prinsip yang telah disampaikan. Kelompok huddle ini dapat disamakan dengan kelompok syndicate dalam pengertian keduanya merupakan kelompok kecil, bagian dari kelompok besar.

11.  Kelompok Buzz
Teknik kelompok buzz hampir sama dengan metode huddle, keduanya sama – sama membagi kelompok besar menjadi kelompok-kelompok kecil. Apabila angota diskusi terdiri dari 30 orang atau lebih, maka kelompok asal dibagi menjadi kelompok buzz yang terdiri dari 10 sampai 15 orang. Masing-masing kelompok buzz membahas masalah yang diberikan dalam waktu 20-30 menit tergantung topik yang dibicarakan. Selahjutnya diskusi dilanjutkan secara klasikal dengan diawali oleh presentasi dari masing-masing kelompok buzz. Penggunaan sistem buzz memerlukan pengaturan tempat duduk yang lebih lengkap daripada kelompok huddle. Kelompok buzz sebaiknya dalam posisi melingkar dalam melakukan diskusi.

Apabila anggota diskusi kurang dari 30 orang maka digunakan buzz kecil yang beranggotakan 2-3 orang. Teknik ini disebut minilab. Teknik ini menumbuhkan minat dan kreativitas serta merupakan alat untuk memulai diskusi yang sangat baik. Teknik ini dapatdigunakan untuk memperoleh pendapat yang bertentangan, menyimpulkan, dan mengevaluasi proses.

12.  Teknik Phillips 66
Teknik Phillips 66 dikembangkan oleh J. Donald Phillips adalah salah satu variasi dari sistem huddle dan diterapkan untuk situasi kelompok yang tidak menentu ketika partisipasi yang lebih demokratis diperlukan. Teknik ini digunakan dalam kelompok kecil 10 sampai 20 orang atau dalam kelompok besar.

Dalam sistem ini, kelompok besar diminta untuk membentuk kelompok kecil beranggotakan 6 orang dengan sedikit mungkin memindahkan tempat duduk. Jika tempat duduk tidak dapat dipindahkan, kelompok 6 orang dapat dibentuk dengan membalikkan tiga orang yang duduk dibaris depan dan berdiskusi dengan tiga orang di belakangnya. Apabila pengaturan fisik memungkinkan, kelompok lebih baik dibagi dengan metode lain. Dengan membagi jumlah total dengan enam, dapat ditentukan jumlah kelompok kecil yang diperlukan. Cara ini untuk memutuskan hubungan psikologis yang telah terjalin sebelumnya yang dapat mempengaruhi obyektivitas seseorang dalam berdiskusi (seperti persekongkolan, hubungan keluarga, atau hubungan lain). Teknik Phillips 66 ini didesain untuk mendapatkan ide, saran, sikap atau rekomemdasi yang tepat terhadap suatu permasalahan.

13.  SIMPULAN
Dalam era globalisasi ini, pendidikan sepanjang hayat menjadi hal yang penting untuk dapat dilaksanakan oleh umat manusia tanpa memandang umur, latar belakang sosial, ekonomi, kebudayaan, latar belakang pendidikan sebelumnya. Matematika merupakan cabang ilmu yang berperan sebagai raja dan pelayan bagi cabang ilmu yang lain. Sebagai pelayan, matematika adalah ilmu dasar yang mendasari dan melayani berbagai ilmu pengetahuan lain. Matematika merupakan alat untuk mengorganisasi kehidupan manusia sehari-hari dan sebagai bagian dari kebudayaan manusia. Oleh karena itu pembelajaran matematika dilaksanakan sepanjang hayat. Bagi orang dewasa, pembelajaran matematika sepanjang hayat dapat dilaksanakan dengan melaksanakan pendidikan bagi orang dewasa. Pembelajaran matematika bagi orang dewasa ini diharapkan dapat mengasah fungsi otak kiri, yaitu berpikir logis, analitis, kritis, detil, runtut, berurutan dan sistematis, dan mengasah fungsi otak kanan, seperti berpikir alternatif, eksploratif dan kreatif, serta kemampuan desain dan optimasi. Kemampuan-kemampuan ini berguna bagi orang dewasa dalam mengatasi permasalahan maupun perubahan yang muncul dalam kehidupan.

Daftar Pustaka
Gardner, Howard. 2007. Five Minds For The Future. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama
Gunawan, Hendra. 1998. Kurikulum Matematika Pra-universitas. http://www.suarapembaruan.com?News/1998/08/28/0898/OpEd/op06/op06.html. diakses tanggal 10 Desember 2007
Leonelli, Esther D. Teaching to the Math Standards with Adult Learners . http://www.ncsall.net/?id=348. diakses 9 Januari 2008

Ron.,  Susan Zemke. 1984. 30 Things We Know For Sure About Adult Learning. Innovation Abstracts Vol VI, No 8, March 9, 1984.    http://www.floridatechnet.org/inservice/abe/thirty.pdf
Schloglmann, Wolfgang. 2006. Lifelong Mathematics Learning-a Threat or an Opportunity?Some remarks on affective condition in mathematics courses. Adult Learning Mathematics-an International Journal Volume 2 November 2006. ISSN 1744-1803. http://www.alm-online.org/Journal/ALM_Journal.htm

Sudrajat, Akhmad. Pendidikan Sepanjang Hayat. http://akhmadsudjajat.wordpress.com/a-opini/. diakses tanggal 8 Januari 2008

Suprijanto, H. 2007. Pendidikan Orang Dewasa Dari Teori hingga Aplikasi. Jakarta: Bumi Aksara

Wikipedia Indonesia. Matematika. http://id.wikipedia.org/wiki/Matematika. diakses 6
Januari 2008









Tidak ada komentar:

Posting Komentar